Monday, 12 August 2013

SAD STORY ( fanfiction. cast : Jung Jiwon ( OC ), Kim Junsu ( DBSK ), Max Changmin (DBSK) part 4

Changmin dan aku pulang ke rumah setelahnya, kami terkejut melihat sosok cantik berdiri di depan apartemen changmin. Dia tersenyum lebar saat melihat changmin datang.

“ eomma! Kenapa eomma ada disini?” tanya changmin yang langsung memeluk eommanya
“ yah, apa maksudmu? Bukankah hari ini kau berulang tahun?” tanya eommanya,
Aku melihat keduanya bingung “ eomma?” kata itu meluncur saja dari mulutku, memang benar sosok tersebut benar-benar cantik, tapi bukankah changmin harusnya memanggilnya appa? Dia namja kan? Kenapa changmin memanggilnya eomma?
“ aahh aku lupa, oh ya eomma kenalkan ini nunaku Jiwon!” kata changmin melihat ke arahku,

Aku diam sebentar dan kemudian membungkukkan badanku “ annyeonghaseo, Jung Jiwon imnida!” kataku memberi salam, eommanya changmin sedikit terkejut dengan changmin yang memanggilku nuna

“ ah jiwon sshi pasti terkejut melihatku, baiklah kalian masuk dulu. Kita bicara di dalam. Aku yakin kalian berdua pasti lapar sekali.” Ajak eommanya changmin.

Kami duduk di meja makan, meja makan kecil itu tampak penuh dengan semua masakan yang dimasak oleh ibu changmin. Aku tidak tau dari mana datangnya perasaan ini, tapi rasanya hangat sekali.
“ aku belum memperkenalkan namaku, Kim Jaejoong!” kata eommanya changmin melihatku sambil tersenyum, dia duduk di ujung meja sementara aku dan changmin berada di sisi kanan dan kirinya.

Aku tersenyum padanya “ emm... bagaimana aku memanggilmu?” tanyaku dengan suara lembut, agak takut tentu. Jaejoong sshi dan changmin hanya menertawakanku lembut
“ aigoo.. panggil saja sesukamu.” Kata eommanya changmin
“ nuna, panggil saja eomma. Sama sepertiku!” suruh changmin dengan senyumnya, aku melihatnya agak terkejut
“ eomma?” tanyaku, changmin mengangguk
“ iya eomma.” Kata changmin, melihatku dengan pandangan berarti. Aku kemudian mengalihkan pandanganku kepada jaejoong sshi
“ b-bolehkah?” tanyaku ragu padanya, jaejoong sshi tersenyum lembut dan mengangguk
“ aku akan senang.” Jawabnya, aku bisa merasakan senyum merekah di wajahku. Aku senang sekali, baru pertama kali aku memanggil sesorang dengan sebutan eomma. Dan rasanya benar-benar menyenangkan. Inikah rasanya punya seorang ibu? Inikah rasanya memanggil seseorang dengan sebutan eomma?
Hangat sekali!!
“ gamsahamnida!” gumamku

End of POV

“ kalian darimana?” tanya jaejoong , melihat Jiwon dan changmin yang datang menggunakan pakaian resmi hari ini mebuatnya penasaran.

“ nuna mengajakku untuk menghadiri pernikahan temannya eomma.” Jawab changmin

“ oh jeongmal, pantas saja kalian terlihat sangat rapih.” Gumam Jaejoong “ Jiwon ayo makan, sini duduk lebih dekat denganku!” pinta Jaejoong menyuruh Jiwon untuk duduk mendekat padanya

“ ne!” jawab Jiwon dan menggeser duduknya lebih dekat dengan jaejong

“ ayo kalian makan yang banyak!” suruh Jaejoong,

“ ne!!” ucap changmin dan Jiwon bersamaan

“ ah, aku sebenarnya mau menanyakan hal ini pada kalian. Aku kira changmin bercanda mengatakan padaku kalau dia punya roomate.” Kata jaejoong
“ eomma lihat sekarang kan, aku tidak bohong.” Kata changmin
“ memang tidak minnie, tapi eomma tidak menyangka kalau roomatemu itu yeoja. Aku kira kau dan jiwon berpacaran pada awalnya, tapi sepertinya tidak.”
“ jiwon nuna meringsek masuk ke dalam apartemenku dan memohon padaku untuk mengizinkannya tinggal bersamaku. Dia juga yang menyuruhku memanggilnya nuna, seperti yang emma lihat sekarang.” jelas changmin, jeje menggelengkan kepalanya
“ anieyo umma, semua bagian benar kecuali bagian dimana aku meringsek ke dalam rumah.” Kata jiwon, jaejoong tertawa melihatnya “ yah, kau jangan sembarangan mengatakan hal-hal tidak benar kepadaku.”
“ wae?? Memang seperti itu keadaannya.” Kata changmin membuat ekspresi wajah mehrong kepada jiwon ( :P )
Jaejoong semakin tertawa di buatnya “ aigoo.. aigoo baiklah aku mengerti, ayo habiskan. Aku tidak mau ada makanan tersisa di meja makan.” suruhnya
Pandangan Jaejoong tertuju pada Jiwon sedari tadi, entah kenapa dia ingin melihat Jiwon, dia ingin tau tentang Jiwon lebih dalam. Jaejoong tersenyum, melihat Jiwon dan changmin yang begitu akrab satu sama lain, dan satu hal lagi. Mereka berdua begitu mirip satu sama lain.

Kembali, Jiwon berlari ke kamar mandi dan beberapa lama kemudian dia keluar dengan wajah yang sangat pucat. Buru-buru changmin memberinya obat milik Jiwon dan segelas air. Jiwon meminum obatnya sampai habis

“ kau harus istirahat nuna! Perlukah aku menelfon dokter?” tanya changmin khawatir

“ tidak, tidak usah!” jawab Jiwon, mendorong changmin lembut dan duduk di tempat tidur. Kali ini changmin memutuskan untuk bertukar tempat dengan Jiwon. Changmin hanya melihat Jiwon, khawatir melihatnya yang terbaring diatas rajang dengan wajah yang sangat pucat.

“ oh, apa yang terjadi?” tanya Jaejoong melihat changmin dan Jiwon yang terbaring di kasur

“ tidak apa eomma, nuna hanya sedang sakit sekarang. Tadi kami sudah ke dokter, eomma tidak perlu khawatir!” jawab changmin ke jaejoong yang baru saja kembali dari membuang sampah

“ baiklah, eomma mau cuci piring dulu. Kau mau berangkat kerja?” tanyanya pada changmin

“ mm, tolong jaga Jiwon nuna baik-baik eomma. Kalau dia tiba-tiba muntah, berikan obat yang ada disana itu untuknya. Semuanya satu-satu!” pnta changmin sambil mengambil mantelnya “ aku pergi dulu eomma, kalau ada apa-apa cepat telfon aku!”

“ eo, baiklah! Hati-hati!” gumam Jaejoong

Setelah changmin pergi Jaejoong beralih ke Jiwon, merapihkan selimut yang menutupi tubuhnya dan mengecek suhu badannya. Dia tersenyum dan meninggalkan Jiwon untuk mencuci piring. Jaejoong berhenti saat dilihatnya sebuah cincin di samping tempat cuci piring. Cincin yang sangat familiar.

“ tidak ini tidak mungkin, kenapa ini bisa ada disini?” katanya, memeriksa cincin itu dan menemukan inisial nama YJ di dalamnya. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui cincin yang sama melingkar di jari manis kanannya. Pandangannya langsung tertuju pada Jiwon yang terbaring di atas tempat tidur

“ mungkinkah ini milik Jiwon?” tanya Jaejoong pada dirinya sendiri.

Keesokan harinya

Jiwon bangun dari tidurnya, menemukan changmin yang tertidur pulas di sampingnya dan bau masakan khas tercium oleh hidungnya. Jiwon mengeryap sedikit, melihat Jaejoong yang tersenyum lembaut padanya.

“ aigoo~~ kau sudah bangun rupanya, umma sudah siapkan air hangat. Mandilah!” suruh Jaejoong melihat Jiwon, Jiwon hanya terdiam bingung “ wae? Kau tidak mau mandi? Ayo cepat, nanti airnya jadi dingin!” tambah Jaejoong

Jiwon perlahan beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi, kali ini bahkan Jaejoong bisa mendengar suara muntahan Jiwon dengan jelas. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran, segera dia teringat pesan changmin dan disiapkan seluruh obat Jiwon.

Jiwon keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian, menyeka mulutnya dengan punggung tangannya.

“ Jiwon~ ini minumlah dulu!” kata Jaejoong mengulurkan obat dan segelas air dulu “ kau bisa bertanya padaku nanti, sekarang minum ini dulu!” tambahnya, Jiwon menurut dan meminum obat yang diulurkan Jaejoong

“ duduklah dulu, kemari!” pinta Jaejoong menyuruh Jiwon duduk dan menghidangkan bubuk di depannya “ makan ini dulu!”

“ gamsahamnida!” gumam Jiwon, Jaejoong tersenyum lembut

“ tidak perlu, aku menyuruh changmin untuk membeli buah dibawah, makanlah habiskan itu dulu!” pinta Jaejoong

“ kenapa umma begitu baik padaku? Kenapa changmin juga begitu baik padaku, umma baru mengenalku bukan?” tanya Jiwon bingung

“ apa butuh alasan untuk berbuat baik pada seseorang?” tanya Jaejoong pada Jiwon sambil tersenyum

“ aku pulang!!!” kata changmin yang sudah memasuki apartemen dengan membawa sekantung buah “ oh eomma membuat bubur? Kenapa aku tidak dibuatkan?” tanya changmin manja

“ iisshh.. kau ini, Jiwon sedang sakit kau makan ini saja!” kata Jaejoong memberi changmin porsi makan biasa “ dan juga Jiwon, apa ini milikmu?” tanyanya memberikan cincin

“ ah ne, ini milikku.” Jawab Jiwon mengambil cincinnya

“ aku menemukannya di dekat tempat cuci piring, kau harus hati-hati lain kali!”

“ ne, terima kasih!” jawab Jiwon tersenyum lega, dia tidak sadar kalau cincin yang dipakainya tidak berada di jarinya semalam

“ jarang sekali melihat cincin dengan model seperti itu disini.” Komentar Jaejoong

“ papaku memberikannya padaku saat ulang tahunku yang ke-12, 2 hari sebelum dia meninggal.” Jawab Jiwon dengan senyuman

Wajah Jaejoong berubah pucat mendengar perkataan Jiwon.

“ m-maafkan aku!” kata Jaejoong, tubuhnya sudah gemetar sekarang

“ tidak apa, aku masih bersyukur setidaknya dia masih meninggalkan sesuatu untukku. Aku sangat menyayanginya! Aku tidak punya siapapun selain dia.” Kata jiwon tersenyum

“ b-bagaimana dengan ibumu?” tanya jaejoong ragu

“ aku tidak tau dimana ibuku, aku tidak pernah melihatnya semenjak aku lahir. Aku tau aku punya ibu, tapi nenekku tidak mau memberitahuku apapun tentang dia. Dan sekarang, waktuku tidak banyak. Aku benar-benar harus menemukan ibuku!” jawab Jiwon tersenyum

Jaejoong melihatnya, tidak terasa airmata sudah memenuhi matanya

“ aku kadang iri sekali dengan changmin, aku tidak tau rasanya punya ibu. Dan aku bersyukur changmin masih bisa bertemu dengan ibunya.” Kata Jiwon melihat changmin yang juga menatapnya

“ aku permisi sebentar!” pamit Jaejoong beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari apartemen meninggalkan Jiwon dan Changmin

“ maafkan aku!” kata Jiwon pada changmin

“ sudahlah nuna, kau berhak bertemu dengan ibumu! Aku yakin itu!” kata changmin menenangkan Jiwon “ sekarang, buat ibuku senang dengan menghabiskan semua bubur itu!” pintanya, Jiwon tersenyum dan mulai makan lagi.

Jaejoong duduk di tangga apartemen changmin, tangannya menutupi mulutnya dan airmata mengalir deras dari matanya. Mungkinkah? Jiwon adalah anaknya? Anak perempuannya yang dulu ditinggalkannya untuk yunho. Cincin itu, cincin yang dikenakan jiwon adalah cincin yang dibuat yunho khusus untuk dirinya dan jaejoong. Inisial YJ yang merupakan kependekan dari nama mereka membuktikan semuanya.

Dan apa yang baru saja jiwon katakan? Yunho meninggal?
air mata jaejoong semakin mengalir deras, lebih dari 10 tahun lamanya dia terus menunggu supaya Yunho kembali dan sekarang, dia tau kalau yunho meninggal. Hatinya hancur berkeping-keping. Cintanya telah meninggal dan kembali pada yang menciptakannya.

Inikah alasan kenapa jaejoong tidak bisa melepaskan perhatiannya dari jiwon semenjak pertama kali melihatnya? Bahwa jiwon adalah anaknya, saudara kembar changmin.

--
Dering nada telfon terdengar dari sudut ruangan, Jiwon segera berlari untuk mengangkat telfon itu.

“ issshh anak ini lupa lagi membawa handphonenya.” Keluhnya memegang handphone changmin, dia mengeser tombolnya dan menjawab telfon “ yeoboseyo!”

“ is this Changmin sshi?” tanya suara di sebrang

“ maaf, changmin sedang tidak membawa ponselnya sekarang. Ada yang bisa saya bantu? Ini siapa?” tanya Jiwon

“ aku dokter Kang, sebelumnya aku dan changmin sshi sudah berbicara mengenai masalah tes darah, tolong katakan padanya hasil tesnya sudah siap.” Jawabnya

“ tes? Tes apa?” tanya Jiwon

“ saya menemukan hal yang aneh pada saat terakhir kali changmin sshi mendonorkan darahnya untuk salah satu pasien saya beberapa hari yang lalu.DNA nya identik.” Jawab si dokter, Jiwon mengerutkan dahinya

“ boleh aku kesana sekarang? Boleh aku melihatnya?” tanya Jiwon

“ maaf ini dengan siapa?”

“ aku pasien yang didonori darah oleh changmin.” Jawab Jiwon

--

Jiwon bergegas masuk ke dalam ruang dokter, melihat dokter yang dulu sempat beberapa saat merawatnya. Dia duduk di mejanya tersenyum melihat Jiwon. Segera Jiwon bertanya tentang hasil tes darah itu dan dokter memberikan dokumennya.

“ DNA kalian identik dan kemungkinan anda dengan Changmin sshi adalah kembar.” Kata dokter, Jiwon melihatnya tidak percaya. Data otentik yang ada di tangannya berbicara tentang fakta.

Dia dan changmin adalah saudara, saudara kembar lebih tepatnya. Apakah mereka berdua tidak sadar? Dengan orang-orang disekitar yang mengatakan bahwa mereka mirip satu sama lain, dan Jiwon dan Changmin yang hanya menganggapi omongan mereka dengan gurauan.

“ a-apa changmin tau tentang hal ini?” tanya Jiwon

“ kami sudah mendiskusikan hal itu kemarin, tapi aku menyuruh Changmin sshi untuk menunggu hasil tes yang lebih akurat lagi.

Jiwon berjalan pelan menuju apartemen changmin, perasaannya campur aduk antara senang dan juga terkejut. Dia marah karena changmin tidak memberitahunya lebih awal, dan juga senang karena firasatnya selama ini benar. Dia merasa dia terikat dengan changmin, dan inilah buktinya.

“ nuna. Kau dari mana saja!” tanya changmin khawatir, dia berlari mengatur nafasnya melihat Jiwon “ kau baik-baik saja nuna?”

Jiwon hanya melihat changmin, tidak mampu membendung airmatanya untuk tidak jatuh diatas pipinya.

‘paakk’

Jiwon memukul lengan changmin

“ aaaawww nuna.. kenapa kau memukulku!” keluh changmin

“ babo! Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya! Aku baru bertemu dengan dokter Kang dan dia menjelaskan semuanya padaku! Kau dan aku kembar bukan?” tanya Jiwon langsung pada changmin, changmin diam melihatnya. Matanya juga sudah berkaca-kaca

“ m-mianhae.”

“ kau tidak mau memelukku? Apa sekarang kau berniat mengacuhkanku setelah kau tau aku benar-benar saudaramu?”

“ aniya, aku tidak akan melakukan itu! Aku hanya menunggu hasil yang lebih otentik dari dokter.” Kata changmin “ kau tidak tau betapa senangnya aku ketika dokter Kang bilang ada kemunginan bahwa kau dan aku bersaudara nuna!”

“ issshh... kau menyebalkan!” gumam Jiwon dan memeluk changmin, changmin juga memeluknya. Mereka berdua bahagia, meskipun mereka tidak tau alasan kenapa mereka terpisah, tapi setidaknya bisa bertemu satu sama lain membuat mereka tenang

“ ayo pulang! Kau harus bertemu dengan eomma nuna!” kata changmin senang, Jiwon mengangguk “ hari ini, karena aku baik aku akan menggendongmu! Kau tidak boleh terlalu lelah nuna!”

“ araseo!” kata Jiwon yang naik ke punggung changmin.

Jalan menuju apartemen changmin memang menanjak dan mereka harus menaiki beberapa tangga untuk sampai di apartemen changmin.

Beberapa saat berjalan bersama dengan changmin yang menggendong Jiwon, mereka sampai di apartemen changmin. Mereka berdua hendak masuk ketika melihat 4 orang berpakaian rapih berdiri di depan mereka.

“ apa yang kalian lakukan disini?” tanya Jiwon, tau kalau mereka adalah anak buah neneknya

“ nona muda, anda harus ikut kami!” kata salah seorang dari mereka

“ tidak, aku tidak mau! Kalian pergi dari sini!” perintah Jiwon

“ maafkan kami nona muda, kami mendapat perintah dari nyonya untuk membawa anda pulang!”

“ aku tidak mau! Aku tidak akan pulang!” kata Jiwon lagi, changmin sudah melangkah berdiri didepan Jiwon. Jaejoong melihat mereka dengan wajah khawatir

“ maafkan kami nona, kami tetap akan membawa anda pulang!”

“ tidak boleh! Tidak ada yang boleh membawanya pergi dari sini!” kata Changmin

Keempat orang itu berjalan mendekat ke arah Jiwon, 2 orang menarik changmin dan dua orang lainnya pergi membawa Jiwon. Changmin mencoba meronta melawan mereka, matanya sudah berkaca-kaca melihat Jiwon yang dibawa pergi

“ tidak minnie, aku belum bertemu eommaku! Eommaa~~” panggil Jiwon sebelum mulutnya dibekap oleh salah seorang pengawal

“ nuna.. LEPASKAN AKU BRENGSEK!!” teriak changmin,

Jiwon sudah dibawa pergi dua orang itu dan yang lainnya masih memegangi changmin yang sudah menendang dan memukuli mereka. Changmin segera berlari menyusul Jiwon yang sudah berada di ujung jalan dan dua orang pengawal itu membawanya masuk ke dalam mobil.

Changmin berlari sekuat tenaga mengejar Jiwon, namun terlambat. Mobil audi hitam itu sudah pergi meninggalkannya.

“ AAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak changmin frustasi

Dia jatuh tersungkur di aspal, marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun untuk Jiwon. Dia menangis tersedu, hatinya sakit melihat Jiwon yang seperti itu. Tidak peduli orang-orang disekitar yang melihatnya dan berpikir dia gila.

“ minnie!” panggi Jaejoong pelan menyentuh bahu changmin

“ eomma... nuna sudah pergi! Eomma apa yang harus kulakukan? Dia belum bertemu denganmu eomma!” kata Changmin, Jaejoong menangis sambil memeluknya “ dia kembaranku eomma, dia kakakku, dia anakmu eomma! Aku baru bertemu dengannya dan dia ingin bertemu denganmu kenapa mereka mengambilnya!!” teriak changmin frustasi

Jaejoong tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya memeluk changmin lebih erat lagi. Hatinya juga sakit melihat anaknya diperlakukan seperti itu.





-TBC-

No comments:

Post a Comment