Monday, 12 August 2013

SAD STORY ( fanfiction. cast : Jung Jiwon ( OC ), Kim Junsu ( DBSK ), Max Changmin (DBSK) part 1

‘prang’

“ DIAM!!”Teriak nenekku sambil membanting sendok dan garpu yang dipegangnya. Dia melihatku dengan tatapan tajam dan wajah yang bergetar saking marahnya.

“ kenapa? Tidak bolehkah aku bertanya tentang ibuku sendiri?” tanyaku padanya

“ SUDAH KUBILANG DIAM!” teriaknya lagi lebih keras padaku

Hal ini terjadi setiap aku bertanya padanya tentang ibuku, nenek tidak pernah menjawab malah memarahiku. Aku baru kembali dari italy, selama 7 tahun aku belajar design disana dan kejadian 7 tahun yang lalu sebelum berangkat terulang kembali.

“ aku sudah bilang, jangan membicarakan sepatah katapun tentang dia!” kata nenek dengan suara bergetar

“ kenapa? Apa aku tidak berhak..”

“ YA!! Kau tidak berhak!!” teriaknya memotong kalimatku “ kau tidak berhak tau apapun tentang ibumu! Kau mengerti itu! Diam dan lanjutkan saja makanmu!”

Aku tertawa hambar sambil menatapnya lekat “ wae? Apa yang nenek coba sembunyikan dari aku?”

“ kau tidak mendengarku? Diam dan lanjutkan saja makanmu! Lihat apa yang sudah kau lakukan padaku, aku tidak selera makan!” kata nenek “ pelayan, bersihkan meja!” perintahnya pada pelayan dan bangkit berdiri dari kursinya. Aku juga bangkit dari kursiku

“ aku akan menemukannya! Aku akan menemukan ibuku, nenek tidak punya hak melarangku tau tentang ibuku atau mencarinya! Nenek tidak punya hak!” ucapku padanya.

Kuambil tasku dan melangkah keluar dari rumah megah milik nenek. Aku tidak tahan, sudah cukup selama 24 tahun dia mengekangku dan segala kehidupanku. Selama 24 tahun dia tidak pernah membiarkanku tau satu hal pun tentang ibuku. Bahkan inisial namanya pun aku tidak tahu. Setelah papaku meninggal 12 tahun yang lalu pun dia tetap menutup mulutnya rapat-rapat tentang ibuku.

“AAARRRRRGGGGGHHHHH!!!!!”

Teriakku frustasi di dalam mobil. Kupukul setir mobil dan membiarkan air mataku jatuh membasahi pipiku. Aku benar-benar tidak tahan dengan ini, apa yang salah dengan tau tentang ibuku?





Flashback

“ Jung Jiwon , bukankah dia cucu pemilik Daehan group? Wwaaahh… cantik sekali!”

“ wwaaahh… dia keren sekali!”

“tapi apa kalian tau, ada rumor yang mengatakan dia broken home!”

“ benarkah?”

“ iya, ayahnya meninggal saat dia berumur 12 tahun dan dia tidak mempunyai seorang ibu. Ada yang bilang ibunya itu adalah kalangan wanita jalang, alias pelacur kalian tau. Maka dari itu ibunya tidak diterima di keluarganya.”

Aku mengepalkan tanganku saat tidak sengaja aku mendengar pembicaraan mereka di toilet. Aku mendorong pintu kamar mandi kasar membuat ketiga orang tadi terkejut.

“ omo!”

“ J-Jiwon sshi..”

“ jaga mulut kalian! Kali ini aku akan pura-pura tidak mendengarnya!” kataku mengancam, aku keluar dari kamar mandi. Hatiku sakit, mereka tidak tau apa-apa tentang ibuku! Mereka tidak berhak berbicara buruk tentangnya! Sekalipun dia tidak pernah hadir dalam kehidupanku, aku yakin dia orang yang baik!Orang-orang itu tidak punya hak berbicara buruk tentang ibuku!

End of flasback





Aku berjalan keluar dari lift, menuju apartemenku di lantai 7. aku terdiam dan berhenti di tempatku ketika aku melihat sosok pria menungguku di depan pintu apartemenku. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, Junsu.Dia berjalan pelan ke arahku, menyunggingkan senyum manis seperti dolphinnya padaku. Aku hanya melihatnya yang menjadi semakin dekat denganku.

“ dasar panda! Kenapa kau tidak memberitahuku kau pulang hari ini?” katanya, aku hanya melihatnya menundukkan kepalaku supaya dia tidak bisa melihat airmata yang memenuhi mataku.

“ m-mianhae!” ucapku lembut, aku bisa mendengarnya tertawa lembut dan sedetik kemudian aku bisa merasakan kehangatan yang menyelimuti tubuhku, juga hatiku.

“ gwaenchana!” gumam Junsu lembut sambil memelukku “ kau sudah makan?” tanyanya, aku hanya mengangguk mengiyakan.

Junsu membantuku merapihkan barang-barang di apartemenku. Tidak ada orang yang menempati tempat ini semenjak tujuh tahun yang lalu, dan hanya ada pekerja yang bertugas membersihkan tempat ini sebulan sekali.

“ coffee latte!” kata Junsu memberiku secangkir coffee latte favoritku, aku tersenyum

“ thanks.” Ucapku, dia duduk di kursi sebelahku

“ jadi kau baru saja bertemu dengan nenekmu?” tanyanya, aku mengangguk

“ kami bertengkar lagi, kau tau persoalan biasa.” Jawabku ringan, dia hanya tersenyum

“ aku rasa kali ini dia juga tidak memberimu jawaban, benarkan?”

“ kalau dia sudah memberikan jawaban, aku tidak akan duduk disini bersamamu oppa!” jawabku tertawa, Junsu juga ikut tertawa

“kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan pulang hari ini? Aku bahkan mendapat informasi ini dari kepala pelayan di rumah nenekmu.” Tanyanya

“ tidak memberitahupun oppa juga sudah tau kan?” kataku, dia memukul pelan kepalaku “ aaaahh…”

“ dasar anak ini, kau tidak tau seberapa besar rasa rinduku padamu?”

“ sebesar gunung everest?” tanyaku tersenyum, Junsu oppa tertawa

“ ya, kira-kira seperti itu.” Balasnya, aku tertawa “ jadi apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanyanya

“ apalagi oppa? Aku tentu akan mencari ibuku, apapun yang terjadi.”

“ bagaimana dengan nenekmu?”

“ aku akan memikirkan itu nanti, aku hanya ingin menuntut hakku. Sudah lama aku bertahan dan tidak melakukan apa-apa.” Jawabku, “ sudahlah oppa, jangan bicarakan masalah itu. Aku bisa mengurus diriku sendiri!” tambahku tersenyum

“ katakan itu pada anak berumur 5 tahun!” kata Junsu mencibir, aku hanya tersenyum “ kau kira aku baru mengenalmu kemarin?”

“ aku tau, jadi aku mohon demi kesehatan jiwaku, berhenti membicarakan tentang nenekku! Bertemu dengannya hari ini sudah cukup, jangan membicarakannya lagi!” ucapku, Junsu hanya tersenyum

“ baiklah terserah kau saja!”

“ bagaimana kabar oppa?” tanyaku, dia tersenyum

“ aku akan menikah.” Jawabnya, aku sontak melihatnya terkejut.

Apa?

Menikah?

Junsu oppa, menikah?

“ kami sudah berpacaran selama 3 tahun, dan aku melamarnya 3 bulan yang lalu. Bulan depan kami akan menikah.” Tambahnya senang

Aku hanya melihatnya, ekspresiku tidak terbaca. Apa? Kenapa aku tidak tau apa-apa?

“ aku tau aku harus minta maaf padamu karena aku tidak memberitahumu apa-apa tentang ini. Tapi aku yakin, kau pasti akan menyukainya ketika kau bertemu dengannya nanti.” Kata Junsu oppa

Hatiku sakit, untuk yang kedua kalinya.

Orang yang selama ini mengisi hatiku, orang yang selama ini selalu ada dan menjadi tembok tempatku bersandar sudah tidak bisa lagi menjadi milikku. Penantianku sia-sia, harapanku hancur.

“ Jiwon? Kenapa bengong? Kau tidak bahagia?” tanyanya, aku tersadar dan melihatnya menyunggingkan senyum

“ hah? Tentu saja aku senang!” jawabku tersenyum “ aku hanya terkejut oppa tidak memberitahuku dari awal, menyebalkan!” gumamku mengerucutkan bibirku sebal

“ mianhae, aku berjanji kau akan menjadi tamu undangan paling special besok dan aku akan mengatur supaya kau bisa bertemu dengannya segera.” Katanya sumringah, aku hanya mengangguk

“ baiklah, terserah! Tapi ngomong-ngomong siapa namanya oppa?” tanyaku penasaran

“ Han yujin!” jawabnya

“ nama yang bagus.” Gumamku

Junsu pulang beberapa saat kemudian, aku yang menyuruhnya pulang. Aku tidak tahan, tubuhku terjatuh diatas lantai, terduduk dengan membelakangi pintu. Air mataku mengalir deras, hanya aku sendiri di dunia ini. Tidak ada siapa-siapa, menangis di sudut ruangan sendiri.

Kenapa? Kenapa Junsu juga harus pergi? Kenapa aku mencintainya?

Dia yang selalu menemaniku. Dia orang pertama yang akan datang ketika aku membutuhkan sandaran, dia yang terakhir ada ketika aku butuh pegangan. Dan sekarang mengetahui kenyataan bahwa aku tidak bisa bersamanya, aku tidak bisa mencintainya lagi dan aku tidak bisa memilikinya. Hatiku sakit, aku tidak tau harus kemana sekarang.

Wae? Kenapa hidupku seperti ini? Apa salahku?



Nenek memaksaku datang menghadiri rapat direksi hari ini. Dengan menyuruh dua orang pengawalnya menjemputku di apartemenku dan memaksaku untuk datang ke perusahaan. Dan disinilah aku, di tengah-tengah orang-orang licik yang mengelilingiku.

Aku tidak peduli lagi, aku bangkit dari kursiku dan berjalan keluar ruang rapat. Aku tidak peduli lagi dengan pendapat mereka semua, ini menyiksaku.

Kukendarai mobilku tak tentu arah, aku memang tidak punya tujuan bukan? Tujuan hidupku hilang, sandaranku hilang, obat penenangku sudah hilang dan juga alasanku untuk hidup sudah hilang.

“ tolong segelas vodka!” pintaku pada bartender di depanku, mungkin ini satu-satunya pelarianku sekarang. Tidak ada yang bisa melarangku, aku mematikan telfonku. Membuangnya supaya tidak ada yang tau dimana keberadaanku.

“ silahkan!” kata bartender, aku meminum vodkaku sekali teguk, merasakan sensasi tenang ketika cairan ini membasahai tenggorokanku. Aku benar-benar tidak bisa berpikir lagi, pikiranku sudah lelah, tubuhku juga.


-TBC-

No comments:

Post a Comment