Monday, 12 August 2013

SAD STORY ( fanfiction. cast : Jung Jiwon ( OC ), Kim Junsu ( DBSK ), Max Changmin (DBSK) part 2

Aku mengeryap membuka mataku, merasakan sakit kepala yang luar biasa. Sinar matahari yang begitu terang menerpa wajahku, aku perlahan bangkit duduk melihat sekitar.
Dimana aku?

“ kau sudah bangun?” tanya seseorang, aku menoleh ke arah kananku dan melihat seorang lelaki tinggi yang sedang menyiapkan makanan.

“ s-siapa kau?” tanyaku terbata-bata melihatnya, kontan aku langsung menggerayangi diriku dan memastikan tidak terjadi apa-apa padaku.

“ harusnya aku yang bertanya seperti itu, jangan khawatir aku tidak memperkosamu semalam!” katanya, aku mendongak melihatnya setelah menyadari pakaianku masih lengkap

“ kenapa aku bisa disini? Dimana ini?” tanyaku

“ dimana lagi? Tentu saja kau berada di rumahku. Semalam kau berjalan seperti orang gila dan tiba-tiba saja jatuh menimpa tubuhku, dan yang lebih parah kau muntah di seluruh tubuhku!” jawabnya

Aah, tadi malam aku minum terlalu banyak rupanya.

“ m-maafkan aku!” gumamku

“ sudahlah, tidak perlu minta maaf. Ini minum ini dulu!” katanya berjalan ke arahku memberiku air hangat dengan madu, aku melihatnya ragu-ragu “ aku tidak menambahkan racun atau apapun! Kau pasti pusing sekarang, jadi cepat minum!” suruhnya,

Perlahan aku mengambil gelas di tangannya dan mulai meminum air itu sampai habis

“ kau mandi dulu saja, kamar mandinya ada di sebelah sana, aku sudah menyiapkan handuk dan baju ganti untukmu di dalam.” Tambahnya berjalan menuju dapur dan kembali berkutat dengan masakannya.

Aku ragu-ragu sebentar, tapi kemudian berjalan menuju kamar mandi seperti yang dia bilang. Kubersihkan badanku dan kupakai baju yang sudah disiapkannya untukku. Aku keluar dari kamar mandi dengan handuk menutupi kepalaku.

“ letakkan saja bajumu di keranjang itu, aku yang akan mengurusnya. Cepat kau duduk disini dan sarapan!” suruhnya, aku hanya melihatnya bingung.

Kenapa dia begitu baik padaku?

Aku duduk di depannya dengan dia yang sudah menyiapkan nasi dan kimchi jigae di depanku. Aku melihatnya yang sudah makan dengan lahap.

“ kenapa kau baik padaku? Kau tidak mengenalku bukan?” tanyaku penasaran padanya

“ apakah salah berlaku baik pada orang lain?” tanyanya, aku menggelengkan kepalaku

“ t-tidak tapi kenapa kau melakukan ini? Aku jadi merasa aneh.” Gumamku, dia tersenyum sambil mengunyah nasi di dalam mulutnya, entah kenapa dia terlihat lucu ketika melakukan itu.

“ tidak perlu, aku juga tidak tau kenapa aku baik padamu. Aku hanya melakukan apa yang membuatku senang, aku hanya mengikuti hatiku.” Jawabnya “ sudah cepat makan, kau pasti lapar!” tambahnya tersenyum, dia mengambil sumpit di depanku dan memberikannya padaku

Aku tidak mau membohongi diriuku sendiri, aku mulai makan karena aku benar-benar kelaparan.

“ ngomong-ngomong, aku changmin!” katanya memperkenalkan diri, aku mengusap mulutku menggunakan punggung tanganku dan tersenyum padanya

“ Jiwon!” jawabku

“ Jiwon, jarang sekali mendengar nama itu disini,” gumamnya

“ kau tinggal sendiri disini?” tanyaku, dia mengangguk

“ mm, aku tinggal disini sendiri.” Jawabnya “ aku kuliah disana, universitas di dekat sini kau tau kan?” tanyanya, aku mengangguk. Hongik university,

“ kau masih kuliah?” tanyaku

“ tentu saja, memangnya kau sudah lulus?” tanyanya padaku, aku mengangguk

“ mm, aku sudah menyelesaikan S2 ku.” Jawabku, dia melihatku tidak percaya

“ benarkah? Berapa usiamu?” tanyanya

“ 24.”

“ tidak mungkin, umurku sama denganmu. Jangan bohong padaku.”

“ aku tidak bohong, aku masuk kuliah saat umurku 17 tahun, dan selama 7 tahun ini aku belajar di italy.” Jawabku, dia melihatku memutar matanya

“ tentu saja berbeda, sistem pendidikan disana dan disini berbeda apa kau tidak tau itu?” tanyanya, aku melihatnya menggelengkan kepala

“ benarkah? Aku baru tau itu sekarang.” Jawabku polos, dia menepuk dahinya sendiri membuatku tertawa

“ aigoo~~, pantas saja bahasa koreamu terdengar sedikit aneh.”

“ kenapa kau tidak tinggal bersama orang tuamu?” tanyaku padanya

“ ibuku bilang dia tidak ingin mengganggu belajarku jadi dia membiarkanku tinggal sendirian. Setiap bulan dia akan mengunjungiku, aku harus bekerja disini.” Jawabnya

“ ohh begitu.”

“ kau sendiri, darimana kau berasal? Aku tidak berani mencari identitas atau apapun padamu.” Katanya

“ aku hanya kabur dari rumah.” Jawabku enteng

“ apa?”

“ bolehkah aku tinggal disini? Aku akan bayar separuh uang sewanya.” Pintaku padanya, changmin melihatku membelalakkan matanya

“ kau yang benar saja? Tidak, aku tidak mau! Bagaimana nanti kalau ada polisi atau yang lain, aku bisa masuk penjara karena tuduhan menculikmu.” Tolaknya khawatir

“ ayolah, tidak akan terjadi hal yang seperti itu! Aku mohon, aku hanya tidak ingin ada siapapun yang menemukanku!” pintaku terus mendesaknya “ lagipula, jika aku membayar uang sewa kau tidak perlu bekerja lebih keras, benarkan?” tanyaku, dia nampak berpikir sebentar.

Changmin melihatku setelah beberapa saat berpikir, kemudian dia mengangguk

“ baiklah kau boleh tinggal disini, dengan syarat kau harus membayar uang sewa padaku dan juga kau tidak boleh memberi keterangan palsu jikalau ada orang yang mencarimu.” Katanya, aku tersenyum dan mengulurkan tanganku

“ deal!” ucapku , dia menyalami tanganku

“ tapi hanya ada satu tempat tidur disini, dan kita tidak mungkin tidur bersama. Mau tidak mau kau harus tidur di kasur lipat.” Katanya “ kau yakin tetap mau tinggal?”

Aku mengangguk “ aku tidak akan mati meskipun aku tidur di kasur.” Jawabku, changmin menghela nafas “ setelah ini, kau mau kemana?” tanyaku

“ aku harus pergi kerja di restoran di bawah sana.” Jawabnya,

“ boleh aku ikut?” kalimat itu langsung meluncur keluar dari mulutku begitu saja.

“ apa? Kau jangan bercanda!” katanya

“ ayolah, aku mohon! Aku tidak akan melakukan apa-apa di dalam rumah, jadi biarkan aku ikut kerja denganmu!” pintaku melihatnya dengan puppy eyesku, changmin menggelengkan kepalanya frustasi

“ baiklah-baiklah, kau boleh ikut!”

Aku tersenyum senang,
Kami keluar apartemennya bersama, dengan aku yang memakai sepatu milik changmin. Well basicly semua yang aku pakai dari atas sampai bawah adalah miliknya. Aku tidak tau kenapa aku merasa nyaman berada di dekatnya, aku juga tidak tau kenapa kami bisa begitu akrab dalam waktu singkat.

Aku bahkan mengatakan satu hal tanpa berpikir panjang, aku merasa merindukannya, aku merasa aku terikat dengannya. Entahlah, perasaan apa itu yang jelas untuk saat ini aku menikmatinya. Setidaknya ini bisa melupakan rasa sakitku untuk sejenak.

“ selamat pagi boss!” sapa changmin pada bossnya ketika dia memasuki restoran tempatnya bekerja

“ oh selamat pagi! Siapa yeoja cantik ini?” tanyanya, changmin tersenyum janggal

“eh, dia temanku. Emm... bolehkah dia bekerja disini?” tanya changmin

“ oh kebetulan, aku baru akan memasang pengumuman lowongan. Kau tau sohee mengundurkan diri kemarin dan aku kebingungan mencari penggantinya.” Jawab bosnya, changmin tersenyum

“ benarkah, jadi dia boleh bekerja disini?” tanya changmin

“ tentu, ajari dia semua yang diperlukan. Dan juga, siapa namamu?” tanya si boss padaku

“ saya Jung Jiwon, senang bertemu dengan anda!” jawabku tersenyum

“ baiklah, kau pergilah bersama changmin!” katanya tersenyum

“ ne, terima kasih sudah mengizinkanku bekerja!” ucapku dan pergi mengikuti changmin ke ruang ganti, memakai baju seragam pelayan dan kami keluar bersama.
Tidak sulit bukan? Sepertinya ini menyenangkan

“ jadi nona, apa ini pertama kalinya kau masuk ke tempat seperti ini?” tanya changmin padaku, aku mengangguk

“ mm, kau benar.” Jawabku

“ sudah kuduga, jadi ayo ku ajari bagaimana menjadi pelayan yang baik! Mskipun kau tidak menyukai pekerjaanmu, kau tidak boleh malakukannya setengah hati!” katanya, aku tersenyum

“ baik bos!” jawabku membuatnya tertawa

Changmin mengajariku semuanya, bagaimana cara menyambut tamu, bagaimana mencatat pesanan, menyapa para pengunjung dan menyajikan makanan. Memang susah pada awalnya karena aku tidak terbiasa dengan ini. Changmin membantuku dan juga membuat pelanggan mengerti bahwa ini hari pertamaku berkerja jadi aku agak sedikit gugup

--
“ suguhassimnida!!” ucapku dan changmin bersamaan ketika kami melangkah keluar meninggalkan restorant. Aku tersenyum, meskipun kakiku pegal dan bahuku sakit

“untuk hari pertamamu kurasa kerjamu cukup oke.” Komentar changmin, aku tertawa melihatnya

“ aah... kakiku pegal sekali.” Keluhku dan sedikit memukul-mukul kakiku

“ wae? Kau mau menyerah hanya dengan itu?” tanya changmin meremehkan

“ aniya, siapa bilang! Aku tidak akan menyerah!” gumamku “ aahh.. apa kau akan langsung pulang?” tanyaku padanya

“ kenapa? Kau mau jalan-jalan?”

Aku mengangguk cepat “ mm... aku belum pernah ke tempat ini sebelumnya.” Jawabku, changmin melihatku tidak percaya

“eii.. seolma! Jangan bercanda denganku Jiwon, mana ada orang korea yang belum pernah ke Hongdae?”

Aku mengangkat tangan “ aku!”

“ aigoo~~ kau benar-benar belum pernah kemari?” tanyanya lagi, aku menggelengkan kepala

“ mm, aku belum pernah sama sekali!” jawabku, changmin menghela nafas

“ baiklah, apa yang ingin kau lakukan disini?”

“ mm, aku rasa aku akan membeli baju terlebih dahulu. Aku tidak mungkin terus menerus memakai bajumu.”

“ yep! Benar sekali, dan juga sepatu dan juga kau punya handphone?”

“ aku sudah membuangnya.” Jawabku

“ well, baiklah kita akan beli yang baru!” gumam changmin

Dia mengantarku membeli beberapa pasang baju, sepatu dan tentu saja handphone. Meskipun hanya ada nomer changmin di dalamnya tapi setidaknya ini menenangkanku. Tidak ada yang bisa menggangguku. Mekipun aku sedikit memikirkan tentang Junsu. Aku selalu memberitahunya dimana aku berada, dan sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya. Sudahlah, dia sudah mempunyai seseorang yang harus lebih diperhatikan dan dikhawatirkannya daripada aku.

Sudah beberapa hari ini aku tinggal bersama changmin, kami bekerja di restorant 3 kali seminggu dan ketika akhir pekan kami bekerja sampai malam. Semuanya menyenangkan, aku bisa melupakan sejenak beban pikiranku dan kegundahan hatiku. Tapi tetap saja, rasanya ada sesuatu yang kosong.

“ kau mau kemana Jiwon?” tanya changmin, dia sedang bersiap untuk pergi kuliah sekarang, dan aku harus melakukan sesuatu

“ aku hanya akan keluar sebentar, kenapa kau menghawatirkanku?” tanyaku padanya

“ bukannya apa-apa, aku tidak membawa kunci apartemen. Tidak akan terjadi apa-apa kalau kau pulang lebih awal.” Kata changmin. Aku memukul kepalanya

“ yah! Sudah kubilang, panggil aku nuna!” ucapku, aku sengaja menyuruh changmin memanggilku nuna semenjak dua hari yang lalu, rasanya menyenangkan dipanggil nuna olehnya.

“ wae? Kita bahkan seumuran, kenapa kau terus menyuruhku memanggilmu nuna?” tanyanya cemberut

“ dilihat dari segi pendidikan, aku ini kakak kelasmu!” kataku “ sudah sana cepat pergi!” suruhku mendorongnya keluar. Aku bisa mendengar ocehannya dan aku hanya tersenyum,

Aku mengambil hoodieku dan berjalan mencari taksi menuju rumah sakit. Aku tersenyum ketika aku memasuki ruangan dokter Han, dia hanya melihatku setelah melihat hasil tesku sebelumnya.

“ sudah berapa lama kau tidak meminum obatmu?” tanyanya padaku, aku berpikir sebentar

“ 2 minggu.”

“ dan apa kataku tentang alkohol?” tanyanya, aku hanya diam dan menundukkan kepala. Dokter Han menghela nafas “ apa sekarang kau mau di tes ulang?” tanyanya

“ tidak, aku hanya ingin meminta obat.” Jawabku tersenyum

“ Jiwon~ ayolah, sudah berapa lama sejak tes terakhirmu?”

“ aku akan melakukan tes itu nanti, kumohon aku tidak mau menakuti diriku sendiri.” Pintaku padanya, dokter Han melihatku

“ ini yang terakhir, pastikan jika sesuatu kecilpun terjadi kau akan menelfonku!” katanya, aku tersenyum dan mengangguk padanya.

Aku berjalan keluar dari rumah sakit, menyetop taksi di depan dan bersamaan dengan itu seseorang keluar dari dalam taksi. Aku terpaku ditempatku melihatnya, Junsu. Dia berada di depanku sekarang.

“ Jiwon!” katanya dan langsung memelukku,

Apa ini? Kenapa pelukannya terasa menyakitkan sekarang? Kenapa tidak hangat lagi seperti dulu?

“ kau! Kau kemana saja? Kenapa kau ada disini? Kenapa kau tidak mengangkat telfonmu?” tanyanya memberondong “ kau tidak tau betapa khawatirnya aku? Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?”

Aku mendorongnya, melepas pelukan kami.

“ s-sudahlah, jangan pedulikan aku!” ucapku

“ kau bercanda? Bagaimana mungkin aku tidak mempedulikanmu!” katanya “ sekarang, kenapa kau ada disini? Kau sakit? Ada yang luka?” tanyanya mengecekku

“ oppa lepaskan! Aku tidak apa-apa!” kataku agak sedikit membentak padanya, Junsu melihatku terkejut

“ baiklah, aku minta maaf!” ucapnya, “ kau sudah makan?” tanyanya

Disinilah kami, berdua. Junsu membawaku ke sebuah restorant dekat rumah sakit, memesan makanan kesukaanku dan aku yang hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa.

“ Jiwon~ makanlah!” suruhnya lembut

“ aku tidak lapar.” Balasku

“ apa yang terjadi? Kenapa kau tidak pulang ke rumah?”

“ sudah jelas bukan, tidak ada lagi tempat dimana aku bisa hidup tenang, tidak ada lagi yang menyayangiku. Untuk apa aku pulang?” tanyaku

“ aku, aku menyayangimu! Pulanglah!” pintanya “ aku khawatir sekali, lihat kau bertambah kurus dan baju apa yang kau pakai ini?” tanyanya

“ oppa tidak perlu khawatir denganku lagi mulai sekarang. Aku sudah dewasa, aku bisa mengurus diriku sendiri. Oppa lupa, aku hidup sendiri selama 7tahun di negeri orang dan tidak ada yang terjadi denganku. Dan lagi pula ada seseorang yang oppa perlu lebih khawatirkan daripada aku.” Jawabku, aku menatapnya. Bisa kurasakan dia terkejut sekali dengan perkataanku

Hatiku juga sakit. Aku tidak mau berlaku seperti ini padamu oppa. Aku ingin sekali memelukmu, aku ingin sekali kau menenangkanku seperti biasanya. Aku ingin melihatmu tersenyum padaku, dan kau tidak akan tau betapa senangnya aku melihat wajah khawatirmu ketika aku bertemu denganmu.

Tapi aku harus membatasi diriku, aku tidak mungkin hidup seperti itu lagi mulai sekarang. Mengetahui fakta bahwa kau tidak akan pernah bisa bersamaku.

“ jangan katakan apapun pada nenek jika dia bertanya, jangan ikuti aku dan jangan coba untuk mencari tau dimana aku tinggal.” Kataku, aku tersenyum mencoba menhan airmataku “ dan jangan khawatir, aku akan datang di pernikahanmu nanti!” tambahku dan bangkit dari kursiku

“ Jiwon~ aku mohon jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!!” pintanya memegangi tanganku “ aku mohon, aku minta maaf atas segala kesalahan yang kulakukan, tolong jangan pergi!”

Terlambat Kim Junsu!
Kau harusnya mengatakan hal itu lebih awal!

Aku melepas genggaman tangannya di lenganku dan berjalan keluar meninggalkan restorant. Aku tau ini yang terbaik untukku. Aku terus berjalan dan menyetop taksi yang ada, kembali pulang. Airmataku sudah jatuh, aku tidak bisa menhannya.

Bagaimana mungkin aku berkata seperti itu pada Junsu? Bagaimana mungkin aku meninggalkannya seperti itu? Jiwon babo!







-TBC-

No comments:

Post a Comment