“ aigoo~~ sudah kukira kau akan terlambat!” gumam changmin ketika aku datang “ aku sudah menunggu satu jam disini!” tambahnya
“ omo benarkah, maafkan aku!” kataku dan bergegas membuka pintu membiarkannya masuk terlebih dahulu “ kau sudah makan?” tanyaku
“ belum, nuna sendiri?” tanyanya
Sontak aku menoleh ke arahnya, dia memanggilku apa?
“ kau memanggilku apa?” tanyaku tidak percaya
“ apalagi? Kau menyuruhku memanggilmu nuna kan?” tanyanya, aku tersenyum
“ aigoo~~ gomawo!”
“ ya ya ya... jadi ayo cepat, aku akan mengajakmu ke restorant deokbeokki enak. Aku yang traktir!” kata changmin sambil menyunggingkan senyuman lebarnya
“ tidak usah, aku yang traktir! Kau dongsaengku, jadi aku yang akan mentraktirmu!” kataku dan menariknya keluar
“ tidak, aku sedang baik dan ingin mentraktirmu hari ini nuna.”
“ lain kali saja! Malam ini aku yang traktir!”
Aku dan changmin menghabiskan waktu bersama di restorant ddeokbeokki. Bertemu dengan beberapa teman changmin yang kebetulan sedang makan malam juga disana. Sekalian saja, aku mengajak mereka makan bersama.
“ kalian berdua benar-benar mirip!” gumam Kibum teman changmin ketika mengamatiku dan changmin
“ iya benar, sekali lihat saja kalian sudah benar-benar mirip!” tambah woojung
“ benarkah? Bosku dan teman-teman di restorant juga bilang begitu!” gumam changmin
“ tidak salahkan aku menyuruhmu memanggilku nuna?” tanyaku pada changmin
“ baiklah nuna!!” katanya menyerah sambil mengangkat kedua tangannya, aku tersenyum senang melihatnya.
“ keurae, kau harus melakukannya seperti itu changmin ah.” Tambah woojung sambil mengunyah ddeokbokkinya
“ apa kalian benar-benar bersaudara?” tanya kibum
“ hhmmm... untuk saat ini mungkin iya, karena dia yang menerobos masuk ke apartemenku.” Jawab changmin, aku memukul lengannya
“ yah... kau yang membawaku masuk ingat. Jangan bicara sembarangan dan menjelekkan imageku.” Ucapku padanya
“ waahh... bagaimana kalian bertemu kalau begitu?” tanya kibum penasaran
“ dia mabuk dan memuntahiku di tengah jalan, aku hendak meninggalkannya waktu itu tapi banyak orang yang melihat. Bagaimanapun juga aku harus menjaga imageku kan?” kata changmin dengan senyumnya, aku hanya tertawa sambil memukul lengannya lagi. Kali ini kibum dan woojung juga ikut tertawa bersamaku.
--
Kepalaku pusing dan aku bisa merasakan mual yang sangat pada perutku. Kubenamkan wajahku lebih dalam di dalam kloset dan memuntahkan semuanya. Rasanya perih, pusing!
Aku bisa mendengar changmin yang sedari tadi menggedor pintu dan memanggil namaku.
“ nuna, kau tidak apa-apa?” tanyanya
“ mm! Aku hanya terlalu banyak makan tadi malam!” jawabku dan kembali aku membenamkan wajahku
“ isshh dasar kau, jangan lupa minum obat! Aku pergi dulu!” pamitnya, dan beberapa saat kemudian aku bisa mendengar pintu apartemen tertutup. Aku duduk di lantai kamar mandi mencoba mengatur nafasku.
Kuseka mulutku dengan menggunakan handuk kecil dan keluar dari kamar mandi, mengambil obat dari lemariku dan segera meminumnya. Aku duduk di kursi masih mencoba bernafas setelah itu.
Tidak! Aku tidak boleh berakhir seperti ini, aku belum menemukan ibuku! Aku harus bertemu dengan ibuku apapun yang terjadi. Hanya keinginan untuk bertemu ibuku yang membuatku bisa bertahan sampai sejauh ini.
Aku berjalan menuju lemari untuk mengambil beberapa bajuku, ketika aku melihat foto changmin bersama seorang yang sangat cantik.
Siapa ini? apa ini ibunya changmin? Cantik sekali!
Tidak terasa airmataku mengalir, aku selalu ingin tau bagaimana rasanya punya ibu. Menyenangkan kah? Mungkin iya, aku bisa melihatnya dari ekspresi wajah changmin. Beruntunglah dia masih mempunyai seorang ibu.
--
Aku berdiri di depan kampus milik changmin, melihat jam tanganku dan bersandar di samping mobilku.
“ changmin ah!”
Panggilku ketika aku melihatnya keluar dari gerbang kampus. Changmin melihatku terkejut sebelum dia berjalan ke arahku.
“ nuna?” tanyanya memastikan
“ ya, kau pikir siapa! Ayo masuk!” suruhku membuka pintu mobil dan changmin yang masih berdiri melihatku “ apa lagi yang kau tunggu shim changmin, cepat masuk!” suruhku, dia tersadar dari lamunannya dan masuk dari sisi lain mobil
“ yah, aku benar-benar tidak mengenalimu!” katanya “ jadi kau benar-benar orang kaya kan? Kenapa kau tinggal bersamaku? Kenapa kau mengganggu hidupku dan meringsek masuk ke dalam apartemenku? Kau punya banyak uang kan? Kenapa tidak tinggal di apartemen saja?” tanyanya
“ kau yang membawaku masuk ke dalam rumahmu minnie!” kataku mengoreksinya
“ eehh.. itu karena kau memuntahi bajuku dan pingsan begitu saja, aku tidak punya pilihan. Orang-orang melihatku pada saat itu, tau begini aku akan menaruhmu di hotel!” gumamnya, aku melihatnya dan menendang kakinya
“ aaahhh nuna sakit!!” keluhnya “ kau mau kemana berpakaian seperti ini? Kenapa mengajakku?” tanyanya
“ kau kosongkan jadwalmu besok dan pergi denganku. Aku sudah izin bos restorant dan dia memberi kita libur sehari besok. Kau ikut aku ke acara pernikahan temanku.” Jawabku
“ acara pernikahan? Kenapa mengajakku?” tanyanya bingung
“ aku hanya butuh itu, tolong lah, bisa kan?”
“ b-baiklah.”
Aku membelokkan mobilku ke butik milikku, para pekerjanya sedikit shock ketika aku masuk kesana. Tentu saja mereka terkejut, aku sudah lama menghilang dan sekarang tiba-tiba aku muncul.
“ s-sajangnim, selamat datang!” sapa pekerjaku
“ mm, tolong carikan dia sepasang jas dan bawakan padaku gaun putih yang dulu aku kirim!” suruhku
“ ne sajangnim!” jawabnya dan langsung pergi melakukan apa yang kusuruh
“ wwaaahh!! Jadi kau pemilik tempat mewah ini? Yah nuna! Kau benar-benar menipuku!” kata changmin cemberut, aku hanya tertawa
“ sudahlah, duduk saja dulu!” suruhku
Aku mengambil setelan jas berwarna hitam yang dulu sengaja kubuat, tidak tahu untuk siapa tapi itu benar-benar terlihat bagus dipakai changmin. Aku tersenyum senang dan tertawa melihat changmin yang sengaja berpose lucu.
Changmin membantuku membawa setelan jas dan gaun yang akan kukenakan besok ke dalam mobil sementara aku berbicara dengan pekerjaku.
“ oh nyonya besar!” perhatianku teralihkan ketika aku melihat nenek yang sudah berdiri di depan pintu.
Wajahnya merah menahan marah, dia menghampiriku langsung dan sejurus kemudian aku bisa merasakan perih di pipiku
‘PLAK’
“ anak kurang ajar! Kau pikir apa yang kau lakukan?” marahnya, aku tersenyum hambar padanya
“ apa yang kulakukan?” tanyaku melihatnya, di mengangkat tangannya lagi dan memukulku
“ diam kau!!”
“ kenapa nenek hanya memukulku? Kenapa tidak sekalian nenek membunuhku!” tanyaku padanya dengan marah
“ keurae! Aku akan membunuhmu jika itu yang kau inginkan!” katanya marah, aku hanya tertawa
“ silahkan, aku akan senang!” balasku sengaja memancing emosinya
“ jangan mencoba memancingku!”
“ kenapa?” tanyaku, dia mengangkat tangannya lagi dan hendak memukulku ketika kulihat changmin menahan lengannya
“ apa yang kau pikir sedang kau lakukan?” tanya changmin pada nenek yang melihatnya terkejut
“ apa? Siapa kau?” tanya nenek geram pada changmin
“ minnie, pergi dari sini!” suruhku
“ tidak, aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu nuna!” kata changmin
“ nuna?” tanya nenek
“ pergi dari sini kubilang!” bentakku pada changmin, kepalaku pusing sekali. Pandanganku mulai kabur.
Menyebalkan!!
“ kau! Pulang sekarang kau ke rumah!” bentak nenek padaku, aku hanya tertawa
“ tidak akan!”
“ Jung Jiwon, jangan membantah! Kalau tidak...”
“ kalau tidak apa? Aku tidak takut dengan semua ancaman nenek!”
“ aku benar-benar bisa berbuat lebih daripada yang kau bayangkan!” gumamnya, aku tidak peduli. Sekalian saja bunuh aku disini!
Aku mengambil gunting yang ada di atas meja, menyayat tanganku sendiri.
“ aaaaahhh....” aku meringis kesakitan. Bisa kulihat changmin berlari ke arahku, dan seketika semuanya gelap.
--
Aku membuka mataku, mengeryap membiasakan dengan cahaya lampu yang mendadak terasa begitu terang di atas mataku. Aku menoleh melihat changmin yang segera berjalan ke arahku membantuku untuk duduk.
“ apa yang kau lakukan disini?” tanyaku
“ apa maksudmu apa yang kau lakukan disini!” marahnya “ jangan membuatku khawatir seperti itu dan jangan bertindak bodoh sepeti itu!”
“ dasar bodoh, siapa yang menyuruhmu untuk menangis!” kataku tersenyum, changmin mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Aku melihat lengannya “ lenganmu itu kenapa?” tanyaku
“ kau kehilangan banyak darah, dan bersyukurlah kau nuna. Golongan darah kita sama!” jawabnya, aku tersenyum
“ jinjja? Gomawo!” ucapku “ ayo kita pulang, aku sudah tidak tahan berada disini!” tambahku, melepas jarum infus dan changmin yang berusaha mencegahku
“ nuna, apa yang kau lakukan?” tanyanya
“ aku mau pulang!”
“ nuna!”
“ wae?”
Changmin menghela nafas, “ biar aku panggil dokter dulu, setelahnya kau boleh lakukan apa yang kau mau!” katanya, aku tidak berkata apa-apa melihat changmin yang sudah berlari keluar memanggil dokter.
Beberapa saat kemudian dokter datang megecekku dan membiarkanku pulang. Sebenarnya aku yang memaksa untuk pulang, aku benci rumah sakit dan aku benci berlama-lama disini. Kenangan akan papaku yang berlumuran darah di rumah sakit benar-benar menyiksaku.
Aku berjalan menuju apartemen changmin, berdampingan dengan changmin, tidak ada pembicaraan yang terjadi antara kami berdua selama perjalanan pulang.
“ ayo makan dulu nuna!” ajak chhangmin
“ aku tidak lap...”
“ aku tidak akan peduli dengan itu!” kata changmin, meraih tanganku dan membawaku ke sebuah restoran dan memesan makanan kesukaannya, samgyetang. Dengan perlahan dia menghidangkan sup itu untukku.
“ kau yakin akan makan ini?” tanyaku
“ tentu saja! Cepat makan, aku akan mengusirmu jika kau tidak menghabiskannya!” katanya, aku sedikit tertawa dibuatnya dan mulai memakan makananku.
Changmin dan aku duduk di bangku datar di atap apartemen changmin. Hanya untuk menikmati malam yang indah ini. Sedikit udara segar membuatku lebih baik dan tenang.
“ kenapa kau tidak pulang saja nuna?” tanya changmin, aku tersenyum
“ kau masih menyuruhku pulang setelah kau melihat bagaimana nenekku memperlakukanku?” tanyaku, changmin menundukkan kepalanya
“ tadi sebelum kau sadar aku bertemu dengan dokter. Dia bilang kau menderita kanker lambung, apa itu benar nuna?”
Changmin melihatku, aku hanya tersenyum “ nuna!”
“ wae? Kau mengharapkan penolakan dariku? Itu tidak akan terjadi, karena memang benar aku menderita kanker lambung!” jawabku. Changmin melihatku, menatapku dengan lekat “ kau tidak usah khawatir, aku bisa menanganinya!” ucapku mencoba menenangkan
“ apanya yang tidak khawatir? Nuna!” dia memarahiku, aku hanya tertawa “ pulanglah! Meskipun kau tidak menyukainya tapi setidaknya kau akan mendapat perawatan yang lebih baik disana.” Pintanya
“ aku sudah tidak butuh itu, tidak ada yang tau tentang ini kecuali kau dan aku tidak berniat untuk memberitahu mereka. Jangan terlalu dipikirkan! Hidupku seperti drama bukan? Dengan karakter utamanya mempunyai kehidupan yang menyedihkan dari episode awal hingga akhir. Papaku meninggal, orang yang paling menyayangiku dan aku juga sangat menyayanginya. Nenek yang mengekangku, orang yang aku cintai benar-benar akan pergi dan tidak bisa lagi kumiliki. Ditambah lagi aku tidak mempunyai ibu. Aku berusaha mencarinya sendiri, tapi apa yang aku tau? Aku bahkan tidak tau inisial namanya, dan nenekku akan selalu membentakku ketika aku bertanya tentang ibuku.” Jelasku pada changmin
“ kenapa kau baru pergi sekarang?” tanya changmin
“ aku tidak bisa meninggalkan nenekku begitu saja, meskipun aku tidak bersamanya. Cukup dengan statusku yang menjadi keluarganya, itu akan membuatku tenang. Dia masih mempunyai keluarga dan dia masih punya ahli waris, setidaknya dia merasa tidak sendiri.”
“ aku benar-benar tidak tau apa yang harus kulakukan padamu.” Ucap changmin, aku tertawa
“ jangan perlakukan aku seperti orang sakit, hanya itu yang aku mau!” pintaku, aku menghela naas. Beranjak berdiri dan melihat changmin “ aku mau tidur dulu, dan kau pastikan jadwalmu kosong besok!” tambahku dan berjalan masuk ke dalam.
Kubaringkan diriku pelan diatas kasur, pergelangan tanganku masih terasa berdenyut perih. Changmin baru saja mengganti perbannya, aku memejamkan mataku, menghilang sejenak dari kehidupanku yang menyebalkan.
--
“ kau yakin kau baik-baik saja nuna?” tanya changmin
Kami berdua sedang berjalan menuju venue acara pernikahan junsu. Aku menoleh dan memukul lengannya
“ berhenti memperlakukanku seperti anak kecil!”
“ aahhh... nuna sakit!” keluhnya
“ siapa suruh kau berlaku seperti itu? Issshh... menyebalkan! Lihat jasmu jadi berantakan! Diam!” suruhku dan membenarkan beberapa bagian jasnya yang berantakan
“ kau tau nuna, aku baru sadar. Banyak orang yang mengatakan kita berdua mirip. Apakah kita memang benar-benar mirip? Bagaimana menurutmu?” tanya changmin
“ aku tidak tau, tapi kalau benar bukankah itu hebat?”
“ ya, kau sudah bertingkah seperti nunaku setiap hari!” gumamnya
“ aish, kau ini! Ayo kita masuk!”
Aku melihat paman Kim dan bibi Kim berdiri menyambut para tamu yang datang, termasuk juga Junsu yang berdiri di samping mereka. Pandangannya tertuju padaku dan changmin yang baru saja datang. Aku tersenyum melihat paman Kim dan bibi Kim
“ aigoo~~ Jiwon kau sudah pulang?” tanya bibi Kim padaku, raut mukanya terlihat khawatir dan lega ketika melihatku “ anak nakal! Kau kemana saja!” marahnya
“ maafkan aku bi!” ucapku
“ jangan ulangi itu lagi, Junsu marah-marah karena kau menghilang!” katanya, aku melihat ke Junsu oppa yang masih menatapku dengan lekat
“ aku tau bi, dan kenalkan bi Shim changmin!” kataku memperkenalkan changmin yang berdiri di sebelahku,
“ annyeonghaseo, Shim changmin imnida!” kata changmin sambil membungkuk
“ annyeonghaseo! Aigoo~ dia tampan sekali, siapa dia Jiwon?” tanya bibi Kim
“ aku dongsaengnya Jiwon nuna!” jawab changmin tersenyum membuat bibi Kim tertawa
“ baiklah, aku mengerti, kalian masuk saja dulu!” suruhnya, aku mengangguk dan berjalan masuk. Junsu oppa menahanku
“ ikut denganku sebentar!” pintanya lembut, aku melihatnya tidak kuasa untuk menolaknya.
“ aku akan menunggu di dalam nuna!” kata changmin dan dia berjalan masuk meninggalkanku dan Junsu. Junsu melihatku, kemudian membawaku pergi.
Kami memasuki sebuah ruangan kosong, Junsu oppa melihatku dan aku yang hanya menundukkan kepala melihatnya.
“ Jiwon~” panggilnya lembut, aku tidak merespon. Aku bisa mendengarnya menghela nafas
“ tolong jangan berlaku seperti ini padaku Jiwon, aku mohon! Aku bukan orang lain, aku oppa mu!” pintanya
“ maafkan aku!” ucapku
Dan kali ini kembali kurasakan, hangat itu menyelimuti tubuhku. Kali ini tidak menyakitkan, hanya perasaan hangat yang menenangkan!
“ jangan lakukan ini oppa!” pintaku dan dengan lembut mendorongnya perlahan dari memelukku. Junsu oppa melihatku terkejut
“ aku mencoba untuk menahan diriku supaya tidak bersamamu oppa!” kataku
“ apa? Wae?” tanyanya
“ aku mencintaimu, dan aku tau aku tidak bisa memilikimu!” ucapku akhirnya, menatap lekat matanya “ kau akan pergi jauh dariku oppa, ke tempat dimana aku kehilangan hakku untuk menggapaimu. Aku tau aku bodoh sampai harus jatuh cinta padamu, aku tidak bisa menahan perasaanku oppa. Kau selalu ada saat aku membutuhkanmu, dan karenamulah aku merasa menjadi orang yang dicintai. Aku minta maaf atas segala perlakuanku akhir-akhir ini, aku tau aku menyakitimu dengan menghindarimu. Tapi aku tidak bisa menyakiti diriku nantinya, karena aku akan menyesalinya nanti jika tidak.” Jelasku
Aku melihat Junsu oppa, setetes air mata jatuh di pipiku dan senyum merekah di wajahku.
“ tolong, beri aku waktu untuk menenangkan diriku. Setelahnya aku akan bersikap sama padamu.” Pintaku padanya, dia melihatku. Ekspresinya tidak bisa ditebak, tentu saja. Ini pasti mengejutkannya.
“Jiwon..”
“ oppa tidak perlu melakukan apa-apa, aku yang salah. Jangan berpikir tentang aku, aku akan pergi jauh setelah ini, jadi oppa berjanjilah. Oppa akan hidup bahagia setelah ini!”
“ Jiwon aku minta maaf!” kata Junsu oppa
“ tidak perlu, tidak ada yang harus dimaafkan!” gumamku tersenyum, kepalaku pusing, aku ingin muntah! “ maafkan aku, aku harus pergi oppa!” kataku dan bergegas keluar
“ Jiwon jangan pergi!” pintanya memegangi lenganku
“ tolong sekali ini, aku benar-benar harus pergi!” pintaku memelas, kepalaku pusing tidak karuan, aku bisa merasakan keringat dingin membasahi wajahku. Kukibaskan tangan Junsu oppa dan segera berjalan keluar mencari toilet.
Kubenamkan wajahku di dalam kloset, menunduk dan berjongkok memuntahkan semua yang ingin kumuntahkan. Perutku perih, kepalaku pusing.
Aku bersandar pada wastafel, memasukkan obat ke dalam mulutku satu persatu dan meminum air. Aku menutup mataku, mengatur nafas. Semoga aku baik-baik saja.
Aku keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian, melihat changmin yang langsung menghampiriku dengan wajah khawatirnya.
“ nuna baik-baik saja?” tanyanya khawatir, aku mengangguk sambil tersenyum kecil
“ duduklah dulu nuna, kau terlihat sangat pucat!” katanya membawaku duduk di kursi dekat toilet. Aku menurut saja padanya, ketika dia memberiku air mineral dan menyuruhku meminumnya.
“ gomawo!” ucapku, membiarkan changmin mengelap keringatku
“ kau yakin akan baik-baik saja nuna? Perlukah kita ke dokter?” tanyanya, aku memukul lengannya lagi
“ sudah kubilang, jangan perlakukan aku seperti orang sakit!” marahku,
“ baiklah, baiklah aku mengerti”
“ ayo kita harus kembali, aku tidak bisa berada disini.” Kataku berdiri, changmin membantuku berjalan kembali ke ball room.
Hanya untuk hari ini, aku ingin melihat Junsu bahagia. Aku mungkin tidak akan punya kesempatan untuk melihatnya lagi setelah ini, aku akan pergi bukan? Sekarang, sudah ada orang yang akan menjaga Junsu oppa, aku tidak perlu khawatir dengannya. Aku bisa berkonsentrasi penuh mencari ibuku saat ini.
-TBC-
No comments:
Post a Comment